Bicara tentang penyakit yang ada dalam Sistem Peredaran Darah Manusia tidak akan ada habisnya. Akan tetapi untuk usia dan jenjang pendidikan seperti kita, mungkin ada beberapa nama yang memang penting untuk diketahui sebagai pegangan hidup. Salah satunya, Tekanan Darah Rendah atau bahasa kerennya Hipotensi. Nama ini sudah populer tapi mungkin tidak sepopuler lawannya, Hipertensi.

Hipotensi adalah kelainan pada tekanan darah manusia. Tekanan ada 2 macam: sistolik –tekanan pada saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh- dan diastolik –tekanan darah dari pembuluh darah yang membawa darah ke jantung dari seluruh tubuh. Normalnya tekanan darah seseorang dengan berat badan, usia, aktivitas, dan kesehatan secara umum berkisar 120/80 mmHg sistoliknya 120 diastolik 80. Penderita hipotensi, tekanan darahnya mencapai nilai rendah, yaitu 90/60 mmHg bahkan sistoliknya bisa mencapai kurang dari 90.

Sering pusing, mual, penglihatan terkadang dirasakan kurang jelas –terutama setelah duduk lama lalu berjalan, keringat dingin, cepat lelah, nyeri dada bahkan pingsan yang berulang adalah contoh gejala yang biasa dialami penderita. Pada pemeriksaan umum, denyut nadi terasa lemah dan wajah tampak pucat. Ada pula sekelompok orang dalam satu keluarga divonis menderita Hipotensi tetapi tidak menonjolkan sedikit pun dari gejala-gejala tadi. Hipotensi jenis ini disebut hipotensi kronik dan itu normal selama tidak ada keluhan. Biasanya terjadi pada remaja putri, menunjukkan efisiensinya pompa jantung. Mungkin karena kurangnya stress baik emosional/psikis maupun fisik yang berat.

Dari sekian jenis hipotensi, hipotensi ortostatik/postural lah yang lebih sering terjadi. Jenis ini berkaitan dengan perubahan posisi seseorang dari berbaring kemudian berdiri atau duduk lalu berdiri. Darah menuju jantung berkurang akibat pengaruh melawan gaya gravitasi dan menyebabkan penderita tiba-tiba pusing, penglihatan gelap, sempoyongan bahkan mungkin bisa sampai pingsan.

Banyak faktor yang bisa jadi penyebab hipotensi, contohnya:
1. Kurangnya pemompaan darah dari jantung.
Seseorang yang memiliki kelainan/penyakit jantung yang mengakibatkan irama jantung abnormal, kerusakan atau kelainan fungsi otot jantung dan penyakit katup jantung maka berdampak pada berkurangnya pemompaan darah (curah jantung) keseluruh organ tubuh.

2. Volume (jumlah) darah berkurang.
Hal ini dapat disebabkan oleh perdarahan yang hebat (luka sobek, haid berlebihan/abnormal), diare yang tak cepat teratasi, keringat berlebihan, buang air kecil atau berkemih berlebihan.

3. Meningkatnya kapasitas pembuluh darah.
Pelebaran pembuluh darah (dilatasi) menyebabkan menurunnya tekanan darah, hal ini biasanya sebagai dampak dari syok septik, pemaparan oleh panas, diare, obat-obat vasodilator (nitrat, penghambat kalsium, penghambat ACE).

Lalu, apa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi penyakit ini?

Kita hanya dapat mengurangi dampak Hipotensi, diantaranya:
 Aktivitas fisik yang teratur, berjalan pagi sekitar 30 menit min. 3x seminggu (lebih dianjurkan jogging)
 Tidur dengan kepala terangkat ± 30 cm, untuk memperbaiki hipotensi ortostatik
 Menggunakan obat-obatan yang dapat menaikkan tekanan darah, apabila dampak sudah menggangu aktivitas keseharian
 Mengkonsumsi air putih yang cukup (8-10 gelas/hari)
 Sesekali minum kopi, untuk memacu degup jantung sehingga tekanan darah meningkat
 Mengkonsumsi makanan yang cukup mengandung kadar garam
 Untuk perempuan dianjurkan mengenakan stocking elastis

Nah, itulah sekilas tentang Hipotensi. Semoga dengan mengetahui sedikit tentangnya, kita dapat mengatasi hal-hal yang tak terduga dan pastinya menambah ilmu, toh? Jangan lupa, Hipotensi berbeda dengan Anemia. Untuk info lebih lanjut hubungi Dokter langganan anda.

Iklan